Beranda Ekonomi Antri Lama Dibatasi, Nelayan Kendal Terpaksa Beli Solar Subsidi Seharga Rp 9.000...

Antri Lama Dibatasi, Nelayan Kendal Terpaksa Beli Solar Subsidi Seharga Rp 9.000 Perliter

48
0

KENDAL, seputarkendal.com – Perjuangan para nelayan di pesisir pantai utara Jawa Tengah, dalam mencukupi kebutuhan hidupnya kini semakin berat dan menantang dalam bertahan hidup ditengah pemulihan ekonomi. Di Kabupaten Kendal, para nelayan selain bersyarat juga harus mengantri 2 hingga 3 hari untuk mendapatkan bahan bakar jenis solar, juga terpaksa harus membeli BBM bersubsidi tersebut dengan harga Rp 9.000 perliternya, operasionalpun makin membengkak, karena tidak sesuai dengan pendapatan yang diperoleh selama melaut, Rabu (21/09).

Sedikitnya 600 an perahu nelayan berukuran kecil dan 50 an berukuran besar yang berada di muara Kalikuto, saat ini hanya ditambatkan di dermaga Tawang Desa Gempolsewu ,Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Pasalnya, para nelayan tersebut tidak bisa mengoperasikan mesin perahunya karena masih menunggu BBM yang hanya bisa diperoleh 2 kali sepekan, seperti di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan.

Sebagain besar para nelayan yang mengandalkan hidupnya dari hasil melaut tersebut, kini terancam kesulitan ekonomi, karena biaya modal berangkat mencari ikan dengan hasil semakin tidak seimbang ditengah harga ikan masih rendah pasca kenaikan harga BBM. Diperparah lagi mereka kesulitan dalam mendapatkan solar subsidi, yang mengharuskan bersyarat, mengikuti antrian selama 2 sampai 3 hari inden di SPBN.

Salah seorang nelayan yang terngah membersihkan perahunya, Selamet Riyadi mengungkapkan, para nelayan saat ini semakin menderita karena terkendala dengan BBM subsidi jenis solar. Harganya mahal dan cara pembelian dianggap semakin ribet dengan berbagai syarat, itupun harus inden lebih dahulu dengan jatah solar tidak sesuai dengan kebutuhan untuk berangkat melaut.

“Ribetnya proses pembelian BBM solar membuat sejumlah nelayan terpaksa membeli dengan harga jauh lebih mahal, yakni sebesar Rp 9.000 perliter di pengecer yang sudah ikut antri di SPBN, padahal harga seharusnya sesuai dengan ketentuan pemerintah perliter hanya Rp 6.800 saja,”ungkapnya.

Penderitaan nelayan semakin parah, manakala dalam melaut hasil tangkapanya tidak sesuai dengan target, ditengah harga ikan kurang begitu menguntungkan untuk nelayan, karena tidak menutup biaya operasional. Mereka berharap penyaluran BBM tepat sasaran, sehingga tidak ada lagi oknum yang memanfaatkan penderitaan para warga pesisir pantai yang sebagian besar berprofesi sebagai pelaut untuk sandaran hidupnya.(ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here